SEBUT KAMI TIONGHOA BENTENG
Sekitar tahun 1407, saat kekaisaran dinasti Ming, segerombolan orang negeri tirai bambu terdampar didaerah teluk naga, tepatnya dikampung melayu. Menurut babad tanah sunda atau tina heyarang paharayang, perahu yg mereka tumpangi karam karena terbentur karang. Tujuan mereka awalnya jayakarta (Jakarta) namun terdampar diteluk naga. Kepergian dari tanah leluhurnya disebabkan pada masa itu kecamuk peperangan tiada henti, karenanya pencarian penghidupan yang lebih layak kerap dilakukan.
Sedikitnya 100 orang berada dikapal karam itu. Setelah mendarat dikampung melayu sebagian merek banyak yang menikahi gadis setempat, umumnya mereka dating jarang yang membawa istri. Baru setelah tahun 1850 ketika kehidupannya mapan mereka pulang kekampung halaman untuk mengajak kerabat dan keluarga bagi yang telah menikah. Sekembalinya diindonesia sebagian pindah kedaerah pasar lama, pasar baru, serpong dan tanjung kait (banten). Pembuktian sisa peninggalan kehidupan mereka dapat dijumpai dari keberadaan kelenteng-kelenteng tua dikota tangrang, seperti boen tek bio, yang berdiri pada tahun 1684, boen san bio berdiri tahun 1689 dan kelenteng boen hai bio yg dibangun tahun 1694. Menurut keyakinannya ketiga kelenteng yang dibangun oleh satu kelompok yang sama itu dibuat karena satu ikatan moral”kebajikan setinggi gunung dan seluas lautan”
Sejarahwan inggris berpendapat, orang tiong hoa (cina) masuk keindonesia sejak abad ke V. Oleh pemerhati Oey Tjin Eng hal ini disanggah bahwa “jauh sebelum itu orang tiong hoa sudah ada di Nusantara, tepatnya sejak zaman kaisar hanuwuci, tahun 104 SM’.Namun Oey Tjin Eng menhakui hal ini masih kemungkinan besar sebab situs peninggalan tidak ditemukan hingga kini, “yang jelas 100 orang itu adalah asal muasal Tiong hoa Benteng”, demikian Oey menambahkan.
MENGAPA DISEBUT CINA BENTENG..?
Pada masanya banyak dibangun benteng belanda didekat bantar gebang, kini daerah ini terdapat di jlan Ki samaun, kota tangrang. Atau daerah banteng jaya dan banteng makasar. Meski awalnya terdapat benteng belanda sehingga disebut daerah Benteng. Namun menurut Oey orang cina benteng sudah ada didaerah itu sejak 1407 sebelum belanda masuk keindonesia. Hingga kini daerah tersebut dikenal dengan Cina Benteng, karena mayoritas populasinya orang tionghoa yang tinggal dekat dengan peninggalan sisa-sisa benteng belanda. Kini nama benteng digunakan sebagai nama jalan, jalan benteng. Ada lagi benteng makasar, disebut demikian karena dihuni oleh orang-orang makasar yang tidak berjauhan dengan orang Tionghoa Benteng.
AKULTURASI
Selama kurun waktu yang cukup tua ini, banyak tatacara yang diterapkan komunitas tionghoa benteng dalam memadukan nilai-nilai masyarakat setempat dengan prinsip leluhurnya. Bahkan tercipta satu perpaduan budaya tau akulturasi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak dan sebagainya kini masi digunakan. Contonya kesenian betawi mencokek dulunya hanya memakai sarung dan celana baju kurung dan gambang kromong, ternyata unsure budaya tiongkoknyasangat kental. Dalam hal kuliner, yang awalnya “tauhu”menjadi “tahu”, “tauge” menjadi “toge”, “tau cio” menjadi “tauco”, termasuk kwetiaw, pangsit, mie, cakwe, yang semua itu diperkenalkan oleh orang tionghoa.
Nilai-nilai akultirasi ini masi dijunjung tinggi oleh sebagian masyarakat bersangkutan. Tiap suku bagsa pastinya mempunyai rasa kesukuan yang tinggi, tinggal bagaimana menimplementasikan terhadap lingkungannya. Menurut oey yang sempat menjadi penjaga perpustakaan menjelaskan, “ditangrang anti tionghoa itu sebab kita dengan masyarakat pribumi meyakini sama-sama orang Indonesia, jadi kita akur-akur saja”.
DISKRIMINASI
Amerika sebagai raja demokrasi menerapkan anti diskriminasi terhadap kaum kulit hitam ternyata belum mapan, terlebih diindonesia yang mnggunakan demokrasi baru seumur jagung. Contoh kecil yang sering terjadi membuat KTP. Menurut Oey “sepertinya pemerintah lebih cepat bangun jalan tol dari pada membuat KTP kami, tapi syukur sekarang tidak ada masalah karena sudah diselesaikan oleh instansi terkait”.
Dikalangan tionhoa sendiri terbagi dua kelompok antara Indonesia asli dengan yang asimilasi. Ada lagi istilah cina perantau yang disebut sinke yang artinya Tamu Baru, dan bike, bibi dengan sinke yang artinya perkawinan campur antara orang pribumi dengan cina rantau. Golongan bike ini umumnya tidak dapat berbahasa mandarin sebab lebih kuat dididikoleh sang ibu yang umumnya orang pribumi. Ketika ditanya apa setuju dengan istilah asimilasi tersebut. Oey mengatakan, “saya tidak sepakat dengan istilah itu saya lebih setujuintegrasi sebab jika asimilasiidentitas salah satu komunitas hilang.”
KEHIDUPAN
Orang tionghoa ditangrang umumnya dibawah garis kemiskinan untuk mempertahankan ekonominya banyak yang bekerja sebagai petani, pedagang dan tukang gali yang banyak terdapat didaerah sewan, cengklong, dadap, belimbing dan curug. Selebihnya bekerja sebagai buruh, nelayan, tukang becak, dan ada juga yang ikut partai politik.
Dalam keluarga tionghoa terdapat marga, menurut pofesor kwang kuncang marga orang tionghoa diindonesia ada 158/159. Yang besar ada 5, hok yan, haka atau ke, kung fu, haelam atau haena dan cu. Orang hok yan umumnya berprofesi petani, pelaut, nelayan dan pedagang hasil bumi. Orang ke biasanya pedagang dan bidang tambang. Kalau orang kung fu ahli besi dan kayu, dan orang cu ahli masak, contohnya bubur tio cu yang bias dijumpai didaerah harmoni. Ketika ditanya ada keinginan kembali ketanah leluhur ? tjin eng menuturkan, “tahun 1959 kami yang ada di djuanda sempat panda, tapi bagi yang takbermata pencarian mana bias pulang ketiongkok ongkos saja tidak punya, jadi mereka bertahan sesuai dengan kemampuannya”.
IMLEK DAN BARONGSAI
Imlek bermakna hari persaudaraan atau bagi umat konghucu, yang berlebihan rizqi menyantun kefaqir miskin. Imlek identik dengan hujan, menurut orang tionghoa hujan berarti riqi selain memang sudah waktunya musim hujan. Kalau disana (cina) bukan hujan tapi musim salju. Tanggal 1-15 salju maih menyelimuti, itu sebabnya mengapa perayaan imlek berlangsung selama 15 hari. Perayaan imlek oleh orang tionghoa yang beragama budha, Kristen, katolik, islam, dirayakan secara budaya, berbeda dengan agama konghucu yang menganggapnya sebagai nilai-nilai agamis.
Istiulah barongsai dikalangan tionghoa tidak dikenal, yang menamakan justru orang Indonesia. Orang tionghoa menyebutnya sam sai atau sam si. Barongsai ada dua jenis . naga kosong dan naga isi.
oday, age (majalah Explore Th. II. No. 06-2009)

1 komentar:
...pantesan cina banyak disekitar daerah tangrang..
Posting Komentar